Minggu, 08 Maret 2009

Selasa, 17 Februari 2009

Valentine’s Day Dalam Persepektif Budaya Ketimuran Dan Islam

Oleh: Achmad Muchakkam el Zein*

Menjelang memasuki pertengahan bulan Februari, mayoritas manusia di belahan dunia barat sibuk mempersiapkan penyambutan hari Valentine atau hari kasih sayang. Hari raya para pemuja cinta yang jatuh setiap tanggal 14 Februari ini, belakangan juga ikut dinanti-nanti dan dirayakan sebagian besar masyarakat Indonesia. Gaung dan gegap gempita dalam penyambutannya bahkan

bisa dengan mudah kita lihat di stasiun televisi, radio, rumah makan, hotel dan tempat-tempat hiburan yang menawarkan ragam acara penyambutan yang bernuansa cinta, cokelat dan warna pink.

Sejarah Valentine’s Day
Kita hampir semua tahu dan banyak pula yang setuju jika tanggal 14 Februari merupakan hari Valentine atau hari kasih sayang. Tetapi, masih sedikit dari kita yang tahu sejarah pasti tentang kenapa pada tanggal itu bisa disebut hari Valentine dan kenapa pula alasan merayakannya.
Valentine’s day atau hari kasih sayang jika dirunut ke belakang sangat erat kaitannya dengan ritus umat Kristiani dan adat kebudayaan kerajaan Romawi.
Dalam The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul; Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Mengenai sejarah awal mula perayaan hari Valentine, ada beberapa macam cerita dan keterangan yang berbeda-beda. Satu versi cerita mengatakan bahwa asal mula Valentine itu berkaitan dengan seseorang martir (dalam Islam syuhada) bernama Saint/santo Valentine. Ia adalah pria Roma yang menolak melepaskan agama Kristen yang diyakininya. Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi, bertepatan dengan hari yang dipilih sebagai pelaksanaan 'undian cinta'. Menurut legenda disebutkan bahwa St. Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya. Di akhir pesan itu, ia menuliskan : "Dari Valentinemu".
Sementara versi lain mengatakan bahwa Saint Valentine adalah seorang pria yang membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sebuah kuil pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Ia dipenjarakan atas kelancangannya membantah titah sang kaisar.
Syahdan, pada masa itu terdapat budaya 'Feast of Lupercalia,' yakni ritual kencan sehari dengan cara nama-nama para peserta gadis ditulis pada selembar kertas kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencan di festival itu dan biasanya berlanjut menjadi jodohnya.
Di bawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam banyak peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam, kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya. Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya, ia pun memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah itu.
Santo Valentine bersama Santo Marius secara diam-diam tetap menikahkan para prajurit dan muda-mudi. Namun, lama kelamaan tindakan mereka diketahui oleh raja Claudius. Sang raja pun murka dan memutuskan memberikan sangsi kepada santo Valentine dan santo Marius. Sebelum dihukum mati, keduanya dipenjarakan terlebih dahulu. Di dalam penjara, Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara. Kemudian dari perkenalan itu sang gadis simpatik dan setia menjenguk Valentine hingga menjelang kematiannya. Sebelum dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada gadis kenalan tersebut yang isinya: “From Your Valentine”.
Keduanya meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi memuja para dewa (satu versi menyebut Dewa Juno) dan juga tradisi memilih gadis untuk pasangan sehari. Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine. Namun, baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari penghormatan bagi St. Valentine. Akhirnya secara bertahap 14 Februari menjadi hari khusus untuk bertukar surat cinta dan St. Valentine menjadi ikon bagi para pecinta. Setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, orang-orang selalu mengingat kedua santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih. Datangnya tanggal itu sendiri, ditandai dengan pengiriman puisi cinta dan hadiah sederhana, semisal bunga, kado, cokelat, boneka dll. Sering juga untuk merayakan hari kasih sayang ini dilakukan acara pertemuan besar, bahkan permainan lomba dan pesta.

Imperialisme Budaya
Budaya-budaya dan gaya hidup (life style) negara Barat dewasa ini telah merambah ke segenap belahan dunia melalui berbagai jalan masuk. Indonesia adalah termasuk negara berkembang yang “kebanjiran” budaya dan gaya hidup Barat melalui berbagai pintu. Perayaan Valentine berlebihan, pergaulan bebas, pesta seks, narkoba, gaya hidup hedonis termasuk seklumit contoh dari budaya Barat yang sebenarnya sangat tidak cocok dengan budaya ketimuran bangsa Indonesia namun justru digemari. Dengan kekuatan kapital dan hegemoninya, negara-negara Barat memang lebih mudah masuk dan melesakkan pesona tradisi mereka. Selanjutnya sebagaimana hukum kebiasaan, tradisi tinggi (baca-Barat) selalu saja menjadi acuan negara yang telah terkoloni kebudayaannya. Imbasnya, tradisi dan etika ketimuran kita menjadi semakin terkikis dan tersingkirkan secara pelan-pelan.
Di Indonesia, perayaan Valentine diawali dengan budaya bertukar surat ucapan Valentine antar kekasih atau teman. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer, konsumtif dan bersifat meningkat, karena perayaan valentine juga ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang terkait dan perwujudan rasa cinta-kasih.
Perayaan Valentine yang awalnya merupakan ritual keagamaan dan ritual kebudayaan, oleh Barat telah mengalami pergeseran sikap, semangat dan gaya perayaan. Bahkan dalam semangat hari Valentine sekarang ini, ada semacam kesepakatan di antara muda-mudi bahwa berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual tatkala Valentine’s day menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan dan manifestasi dari rasa kasih sayang, bukan nafsu libido semata. Di satu sisi, hari Valentine menurut mereka adalah hari untuk mengungkapkan kasih sayang yang ada.
Suatu hal yang sangat naif namun justru diyakini dan dijadikan pembenaran melampiaskan nafsu dengan atas nama kasih sayang.

Valentine’s Day Dalam Perspektif Islam
Perayaan Valentine sebagaimana telah kita bahas di atas adalah sebuah tradisi umat Kristiani dan juga ritual adat kebudayaan Romawi kuno. Sebagai salah satu ritual keagamaan, Valentine secara tidak langsung merupakan ibadah bagi agama Kristen. Bukti bahwa Valentine sebagai ritual agama Kristen adalah ritual Valentine tersebut telah dikukuhkan oleh seorang Paus Galasius untuk memperingati dua orang yang diberi gelar orang suci oleh umat Kristen (The World Encylopedia 1998).
Bagi umat Islam, melakukan sesuatu yang sudah menjadi syiar atau tradisi orang kafir atau merayakan Valentine hukumnya terklasifikasi menjadi: Makruh, jika yang ia lakukan tidak bermaksud menyerupai orang kafir dan sekedar ikut-ikutan. Semisal, sekedar sms memberi ucapan selamat, cokelat, boneka atau kado (lihat Fatawi al Hadisiyah, 97). Haram, baik ia bertujuan menyerupai orang kafir ataupun tidak, tetapi di kalangan masyarakat telah popular jika yang dirayakannya adalah tradisi orang kafir (fatwa Jalaludin Abdurrahman bin Abi bakar as Suyuti). Dan bahkan bisa menjadi kafir, jika yang ia lakukan adalah tahu bahwa itu adalah budaya orang kafir dan ia tetap merayakan serta rela dengan kekufuran tersebut. Hal ini sebagaimana kaidah fikih ar ridho bi as syai ridho bima yutawaladu minhu. Dan sesuai dengan dua buah hadits populer: Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar). Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan umatku (umat Islam-pen) HR Tirmidzi dari Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya.
Yang perlu digaris bawahi, perayaan Valentine’s Day yang di Indonesia populer sejak awal tahun 1980an, pada masa sekarang telah mengalami pergeseran sikap dan semangat. Jika di masa Romawi sangat identik dengan pemujaan para dewa, di agama Kristen merupakan bagian simbol perayaan hari agama, maka sekarang identik dengan pergaulan bebas dan ajang seks bebas muda-mudi. Mulai dari perayaan yang paling sederhana seperti pertukaran hadiah tatkala kencan, ciuman, hingga pelegalan praktek zina. Yang kesemuannya itu dengan mengatas namakan semangat cinta kasih.
Walhasil, perayaan hari Valentine tahun ini sudah selayaknya menjadi basis kesadaran awal bagi kita, bahwa betapa saat ini kita telah kehilangan budaya ketimuran dan jatidiri bangsa. Kalaulah memang benar semata-mata untuk merayakan kasih sayang, kenapa mesti menunggu dan tertentu tanggal 14 Februari. Kenapa juga harus diwarnai hubungan seksual ataupun yang mendekatinya. Ada baiknya sebelum penulis akhiri tulisan ini, kita renungi bersama-sama sebuah hadits nabi: "Tidak akan kiamat sebelum umatku mengikuti apa-apa yang dilakukan bangsa-bangsa terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta". Diantara para sahabat kemudian ada yang bertanya, "Ya, Rasululah apakah yang dimaksud terdahulu (di sini) adalah bangsa-bangsa Yahudi dan Nasrani?" Rasulullah menjawab "Siapa lagi (kalau bukan mereka). (HR.Bukhori).
Dan agaknya sangat tepat statement yang pernah dilontarkan sosiolog kenamaan Ibn Khaldun: Yang kalah cenderung mengekor yang menang, dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, juga meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk mengikuti adat istiadat mereka. Wallahu A’lamu.


*) Pecinta Pustaka, seni, kitab dan sastra. Penulis adalah alumnus PP. Lirboyo dan redaktur majalah MISYKAT Lirboyo Kediri. Kini bergiat di komunitas COBOLO, Kediri, rajin menganggit pusi, esai, artikel dan sedang berkontemplasi di jalan sunyi tuk menujui raut Matahari.


KETIKA BERKAH DIPERTANYAKAN

Oleh: Ach. Muchakkam. el Zein*

Hari gini masih percaya berkah, berkah itu sugesti dan bid’ah kang, berkah itu bla-bla-bla…
Ungkapan-ungkapan seperti di atas atau sejenisnya, dewasa ini kerap kali terdengar meluncur dari mulut sebagian masyarakat kita. Ironisnya, ungkapan semacam itu justru tidak jarang keluar dari mulut para santri atau mereka yang mengaku generasi muda kaum Ahlussunnah Wal Jamaah. Padahal, sebagai generasi muda yang mengklaim pengamal ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, mestinya mereka menjadi

pionir di garda terdepan pembela eksistensi berkah. Mengingat syariat dan referensi tentang adanya berkah dalam Islam sendiri telah jelas.

Abstrakisme Berkah
Berkah yang sifatnya abstrak secara teori memang gampang terabaikan oleh kita. Karena abstrak jualah, maka yang bisa menjadi pemerhati berkah cuma hati kita. Hati yang lalai atau tidak mengetahui secara benar apa itu berkah, akan berujung pada kecerobohan, keraguan dan mungkin hingga ke taraf tidak percaya akan adanya berkah.
Hal ini juga sebagaimana yang telah diungkapkan gus Mus, faktor yang menyebabkan orang ragu akan adanya berkah, sering kali karena dia tidak tahu akan pengertian dan gambaran dari berkah sendiri. Untuk itu, sebelum kita masuk lebih dalam ke pembahasan berkah, sangat tepat kiranya kalau kita mengupas terlebih dahulu pengertian dari berkah itu sendiri.
Kata barokah jika ditlansliterasikan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi berkah, barakah atau berkat. Jika dirunut artinya dalam Kamus Besar bahasa Indonseia (KBBI) edisi tiga, berkah diartikan “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia atau doa restu dan pengaruh baik yang mendatangkan selamat serta bahagia dari orang yang dihormati atau dianggap suci (keramat).” KBBI edisi ketiga terbitan Balai Pustaka 2005 itu lantas mencontohkannya seperti berbakti kepada guru, orang tua atau pemuka agama.
Sedangkan dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan, bahwa yang dimaksud barokah adalah “Sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khair 'ala al ghair.” Arti ini sangat global dan fleksibel, tergantung konteks yang kita kehendaki. Artinya, bila dikaitkan dengan ilmu dan guru, maka yang dimaksud dengan berkah adalah ilmu, doa restu dan pengaruh baik serta kebahagiaan yang datang setelah kita belajar dan berbakti kepada guru atau Kiai. Kemudian bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa, sehingga mampu mendorong berbuat kebaikan kepada sesama. Harta demikian inilah yang pada hakekatnya sangat didambakan dan dicari oleh setiap orang; sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.
Dalam syariat Islam berkah sangat erat kaitannya dengan tawakal. Berkah berawal dari artian bergerak; tumbuh; bergerak; bahagia (kamus al Muhith). Dalam syariat berkah didefinisikan sebagai kebaikan berlimpah yang diberikan Allah kepada kepada siapa-siapa yang dikehendaki. Sementara tawakkal dalam kitab Ihya Ulumuddin diartikan sebagai penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakali) semata.
Baik tawakal maupun berkah sama-sama berupa perkara batiniah. Meredupnya rasa tawakal lambat laun melunturkan pula kepada penghargaan atas berkah. Manfaat dari tawakal dan berkah memang tidak bisa dirasakan secara kasat mata. Namun sebenarnya justru dari hal seperti itu iman, keyakinan serta pengetahuan agama akan teruji. Pengaruh dari tawakal dan berkah sejatinya pun tidak kosong sama sekali. Ketenangan, ketabahan dan keberhasilan hidup adalah sesuatu yang selalu menyertai tawakal dan berkah. Namun terkadang muncul anggapan bahwa itu semua sekedar imbas dari ketekunan dan usaha seseorang semata. Untuk itu, kiranya kita juga perlu sekali lagi menelusuri letak tawakal dan berkah dalam Islam.
Amal seorang mukmin merupakan perpaduan antara ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar adalah usaha seseorang untuk meraih apa yang dikehendakinya. Sedangkan tawakal menjadi bentuk permohonan tercapainya amal kepada sang Pencipta setelah ia berusaha.
Tawakal menunjukkan pengakuan seorang mukmin bahwa ia sekedar hamba. Betapapun manusia berusaha Allahlah jua yang kan menentukan. Allah menunjukkan dalam QS. Ath-Thalaq; 3, “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Melalui tawakal seorang mukmin mengakui bahwa ia sebenarnya tidak memiliki daya apa-apa. Al Manawi dalam Faidh al Qadir mengartikannya sebagai bentuk penampakkan kelemahan diri. Hanya realitanya kita sering terlena dengan ikhtiar ansich dan menomorduakan tawakal. Kenyataan yang memprihatinkan, mengingat kita tahu betul adanya tawakkal yang ikut berkelindan di dalamnya. Pengetahuan yang tidak disertai kesadaran menunjukkan iman yang masih timbul-tenggelam. Banyak ragam yang menjadikan berkurangnya iman. Antara lain, enggan bertafakkur atas keagungan Allah dan ciptaanNya, menggelapkan hati dengan maksiat, serta tidak menghidupkan hati dengan taat beribadah. Hati yang lalai menjadikan kita ujub (kagum) dengan jerih payah sendiri. Ujung-ujungnya tawakal disepelekan dan berkah diabsurdkan. Berkah dari gema pengajian-salawat, al Fatihah, ziarah, mencium tangan para kiai, tempat terentu atau ngalap berkah dengan jalan lainnya, menjadi barang pasaran yang sekedar diambil bila perlu.

Berkah Digugat Berkah Menggugat
Ada saja persoalan baru yang diusung para kaum anti tawassul dan tahlil untuk membungkam tradisi-tradisi dalam Islam golongan Ahlussunah Wal Jamaah. Setelah gerakan anti ziarah kubur mentok, kini berkembang wacana baru tentang berkah.
Dalam wacana mereka (kaum penggugat, red), berkah dipilah menjadi dua. Ada berkah yang disyariatkan dan ada Berkah yang dilarang. Berkah yang disyariatkan dibagi dalam banyak hal. Ada Berkah dengan ucapan, amalan, dan perilaku. Ada pula berkah yang berkaitan tempat. Ada lagi berkah dengan waktu, berkah dengan makanan, dan berkah dengan zat Nabi SAW.
Berkah dengan ucapan, amal, dan perilaku seperti halnya bertabaruk dengan al Quran. Berkah dengan tempat seperti beribadat di masjid Madinah atau seperti yang dilakukan Rasulullah dengan mengunjungi Masjid Quba’. Berkah dengan waktu seperti berdoa di waktu mustajabah. Berkah dengan makanan seperti meminum air zam-zam. Lalu terakhir berkah dengan zat Nabi SAW seperti, berebut sisa wudhunya Nabi dan lainnya.
Berkah yang dilarang dipilah oleh mereka sesuai urutan Berkah yang disyariatkan tadi. Hanya saja karena kerangkanya tidak disyariatkan sehingga dianggap batal. Yang dijadikan contoh batal tidak jauh dari ziarah ke kubur salaf ash Shalih (bahkan ke kubur para Nabi), menciumi tangan para kiai, perayaan maulid Nabi SAW dan serangkaian doktrin Wahabi lainnya.
Kekeliruan wacana mereka bisa kita cermati secara jelas lewat pembuktian secara parsial (juziyyah) dan secara universal (kulliyah). Secara parsial, kejelasan pro-kontra ziarah kubur masih belum tuntas dan absurd. Para penggugat tawassul serta ziarah tampak belum memahami betul bagaimana praktek ngalap berkah di kuburan dan bertawassul kepada leluhur yang telah meninggal. Ambil contoh dari tulisan Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi (www.asysyariah.com/6-8-2007). Dalam pembagian tawasul yang batal ia menggambarkan: “Pergi ke kuburan dengan tujuan ziarah dan berdoa di sisinya, dengan keyakinan bahwa berdoa di sisinya lebih utama.”
Realita dari ngalap berkah (tabarruk) di makam tentu saja bukan seperti yang mereka gambarkan secara sepihak. Tujuan dari ziarah adalah meminta penekanan doa dari para shalihin yang telah dimakamkan. Dengan kata lain berkeyakinan bahwa berdoa agar para shalihin ikut mendoakan adalah akan lebih mustajab. Kuburannya sendiri bukan menjadi pertimbangan. Kita bertawassul pada shahib al makam, tidak sekedar pada tempat makamnya.
Dalil atas mengambil berkah dari orang yang telah mati tercatat dalam banyak hadits, diantaranya HR. Ath Thabarani, Ibnu Hibban, dan Hakim meriwayatkan perkataan Nabi SAW ketika membaringkan Fatimah (ibunda Ali ibn Abi Thalib): “Allahlah yang membuat hidup dan mati. Dialah yang hidup, tidak mati. Semoga engkau memberi ampun pada ibuku Fatimah binti Asad dan semoga engkau luaskan tempatnya dengan hak nabi-Mu dan segenap nabi yang lain sebelumku. Sungguh Engkau adalah Dzat yang lebih memberikan belas kasihan kepada mayit.”
Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad SAW menjadikan hak nabi lain yang telah wafat sebagai tanggungan doa beliau. Mufti Ahmad Zaini Dahlan menuturkan pula dalam kitab ad Durat as Saniyah (hal. 13) hadits serupa di masa pemerintahan khalifah Umar ibn Khattab.
Diriwayatkan bahwa Bilal ibn Harits ketika wabah kemarau melanda hebat mengunjungi makam Rasulullah SAW, Ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk berharap agar engkau memintakan hujan kepada Allah untuk umatmu. Sesungguhnya mereka hancur sebab sama sekali tidak ada hujan. Akhirnya Bilal bermimpi didatangi oleh Nabi dan diberitahu bahwa umatnya telah diberi hujan” (HR. Baihaqi dan Ibnu Hibban).
Hadits-hadits tersebut memang berisi tawassul pada para Nabi. Tetapi selama belum ada dalil lain bahwa itu merupakan khususiyah Nabi, maka boleh menjadi legalitas tasyri’. Seperti halnya tingkah para sahabat yang ingin meniru semua tingkah laku Nabi. Sampai-sampai muncul teguran Nabi ketika mereka juga mencoba berpuasa wishal (terus-menerus), tabattul (beribadah total), dan perilaku Nabi lain yang memang belum diketahui sebagai khususiyah.
Bertabarruk dengan mencium tangan ulama, mereguk sisa minumannya, dan hal lainnya, telah terpatri sejak era salaf ash Shalih. Sejarah pun mencatat kebiasaan mencium tangan dari para sahabat semenjak berabad-abad silam.
Pembuktian secara umum (kulliyah) adalah dengan mencermati bahwa sesuatu yang tidak diatur oleh syariat bukan lantas menunjukkan kebatilan. Yakni, selama hal tersebut masih senafas dengan ajaran Islam dan tidak melabrak aturan Islam lainnya. Ibnu Hajar dalam Fath al Mubin mengutip perkataan asy Syafi’i tentang bid’ah: "Sesuatu yang diada-adakan dan menyalahi kandungan Kitab, Hadits, Ijma', atau Atsar, maka tergolong bid'ah yang tercela dan sesuatu yang diadakan dari kebaikan serta tidak menyalahi hal tersebut maka tergolong bid'ah yang terpuji."
Dalam konteks Berkah, kita mengambil berkah dari para wali, kiai, ataupun hal-hal lain berkaitan dengan beliau yang notabene lebih makrifat dan mukhlis kepada Allah. Majelis yang semula tanpa arti pun akan menjadi berkah ketika dihadiri oleh alim ulama. Di sis lain larangan tentang bertabarruk dari semua hal tersebut tidak pernah sekalipun tercatat.
Walhasil, dari semua paparan di atas, kiranya dapat kita pahami bahwa barokah atau berkah itu memang jelas adanya. Bagi orang yang mencari berkah juga telah di benarkan oleh syara. Namun, yang harus diingat bahwa mengharap berkah itu hanya sarana untuk mendapat pertolongan dan rahmat dari Allah SWT. Seorang pelajar atau santri yang berada di pondok kemudian mengharap berkah dari Kiai tentunya harus di sertai belajar dan menaati peraturan yang ada. Begitu juga mencari berkah dalam konteks tempat (sowan/ ziarah ke wali atau makam). Tentunya harus disertai keyakinan bahwa hanya Allah jualah satu-satunya dzat yang mengalirkan berkah kepada tempat dan diri mereka. Wallahu ‘Alam.



Bidadari itu Bernama Avril Maulida

Oleh: A. Muchakkam al Tjilatjapi

Bantaran sungai Serayu tampak begitu indah dipandang dari tepi jalan. Tanaman jagung yang tertanam rapi di pingirannya, seolah melambai mesra kala dipandang dari kejauhan. Di sudut yang lain, sebuah jembatan megah membentang, membelah sungai terbesar di kota Cilacap itu. Tidak jauh dari bibir sungai serayu, tinggallah man. Seorang tokoh masyarakat yang kaya raya dan sombong. Dia tinggal bersama istrinya, Nadia dan Aqib anaknya. Gaya hidup sehari-hari Ngadiman sangatlah mewah. Mobilnya selalu berganti-ganti tiap bulan dan gemar mengadakan pesta. Pernikahan dirinya dengan Nadia pun berawal dari perkenalan di pesta ulang tahun kawan bisnisnya.
Roda kehidupan terus berputar. Syahdan, karena sibuk dengan dunia glamornya. Satu persatu perusahaan milik Ngadiman mengalami kebangkrutan. Kehidupan Ngadiman pun berbalik 180 derajat. Sedikit demi sedikit harta warisannya dijual untuk menutupi defisit sebagian perusahaannya.
Tragisnya, begitu mengetahui ekonomi sang suami runtuh. Nadia, yang dulu

menikahi Ngadiman karena pertimbangan harta langsung meminta cerai. Bahkan, Nadia membawa serta Aqib, anak tunggal hasil pernikahan mereka. Lengkap sudah penderitaan yang dialami Ngadiman. Akhirnya, dia hidup sebatangkara tanpa satu pun pendamping dalam hidupnya. Kemudian, untuk membiayai kehidupan sehari-harinya, seluruh harta benda yang tersisa habis terjual. Hingga hanya pakaian di badanlah, satu-satunya harta benda yang masih dimiliki Ngadiman. Namun meski begitu, iman dan Islam dalam dada Ngadiman tidak ikut terjual bersama harta kekayaanya. Justru, dengan kebangkutran itu menjadikan dia sadar akan kekhilafan ketika ia masih kaya. Kini, setelah jatuh miskin, dia berubah menjadi sosok yang rendah diri, sabar dan tekun beribadah. Setiap malam menjelang subuh dia selalu i’tikaf di masjid kauman yang berdekatan dengan rumahnya.
Hari itu (Kamis 12 April), bertepatan dengan malam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ngadiman sengaja berangkat i’tikaf lebih awal dari biasanya. Dia memperbanyak bacaan salawat kepada Rasulullah SAW. Suasana di masjid malam itu tampak beda dari biasanya. Orang-orang yang i’tikaf terlihat lebih banyak. Sebuah tenda besar dan podium megah bahkan telah terpasang di halaman masjid sejak hari kemarin. Usai salat subuh orang-orang yang hadir di Masjid Kauman semakin banyak. Mereka sengaja datang dari berbagai daerah untuk merayakan maulid nabi bersama K.H. Darsono mubaligh kondang dari Kediri. Di tengah berlangsungnya perayaan maulid yang meriah, Ngadiman didatangi oleh pengemis wanita yang membawa tiga orang anak. Dengan wajah sayu penuh beban derita, wanita itu berkata kepada Ngadiman: “Wahai Tuan, sebenarnya saya berat mengatakan ini, tapi mau bagaimana lagi. Kami sudah dua hari tidak makan nasi, sudilah kiranya tuan memberi sedekah sekedarnya untuk membeli nasi. Sungguh Tuan kami benar-benar terpaksa meminta-minta kepada Anda. Allahlah yang menjadi saksi akan keterpaksaan ini. Sebenarnya aku sangat malu meminta sedekah kepada Tuan, karena aku adalah syarifah (keturunan Rasulullah). Apalagi hari ini adalah hari peringatan kelahiran leluhur saya (baca-Muhammad SAW). Maaf Tuan, aku tidak bermaksud apa-apa. Tolonglah demi tiga anakku ini, paling tidak agar mereka tidak kelaparan barang sehari saja,” pinta wanita itu. Mendengar permohonan wanita itu Ngadiman terbengong-bengong. Dalam hatinya dia berkata, “Saya sendiri sudah tidak memiliki apa-apa kecuali hanya baju yang melekat di badan ini. Tapi kalau syarifah itu kuabaikan, apalah artinya aku merayakan maulid hari ini. Di mana letak kecintaanku pada Nabi Muhammad, jika ada keturunannya meminta tolong padaku tapi aku biarkan. Namun, jika aku berikan baju yang melekat ini, berarti aku akan telanjang bulat. Dan kalau mereka kubiarkan kelaparan, apa alasan yang akan kukemukakan terhadap Rasulullah kelak,” gumamnya.
Dalam kebimbanganya, tiba-tiba Ngadiman mendapat bisikan dari hati kecilnya. Lantas dia ajak wanita beserta ketiga anaknya itu kerumahnya. Sesampainya di rumah Ngadiman yang amat sederhana, dia berkata: “Hendaknya ibu berhenti di sini saja, biar saya yang masuk.” Kemudian, dia pun segera memasuki rumahnya seraya menutup pintu rapat-rapat. Setelah itu, dia lepaskan baju yang dikenakan dan berganti dengan baju yang telah dijadikan lap meja. Baju yang dipakai tadi lantas diberikan kepada ibu muda tersebut melalui celah pintu, sambil berkata: “Wahai Ibu, terimalah pemberian sekedarnya ini. Semoga baju ini laku kau jual untuk membeli makanan buat anakmu. Aku minta maaf, hanya inilah yang sanggup aku berikan. Terimalah!” ujarnya. Ibu muda itu kemudian menerima baju tersebut dan mendoakan Ngadiman. “Terima kasih Tuan, semoga Allah memberimu pakaian surga dan semoga Anda tidak lagi membutuhkan orang lain,” doanya lirih.
Mendengar doa tersebut, hati Ngadiman sangat bahagia. Kemudian seraya mengunci pintu, dia mengamini dan membaca salawat atas Nabi sampai akhirnya dia tertidur. Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat bidadari yang luar biasa cantiknya. Meski dulu -ketika masih kaya-, dia sering berjumpa dengan gadis atau artis ibukota yang cantik-cantik. Namun kali ini yang dia lihat sangatlah luar biasa sempurna kecantikannya. Kedua tangan Bidadari tersebut membawa bunga yang amat harum dan ditaruh dalam vas yang indah serta besar. Semerbak wangi bunga dalam vas itu seakan tembus dari bumi ke langit tujuh. Vas kemudian diberikan sang bidadari kepada Ngadiman sambil menebar senyum yang teramat mempesona. Segera saja Ngadiman menerima vas itu dengan senangnya. Kemudian. dia angkat bunga dalam vas untuk melihat isi yang terdapat dalam vas indah tersebut. Ternyata, vas itu berisi beberapa pakaian dari surga yang begitu indah dan menakjubkan. Selanjutnya Sang Bidadari memegang pakaian itu serta mengenakannya kepada Ngadiman. Tidak cuma itu, sang bidadari juga merias Ngadiman begitu rupa. Dan tanpa disangka-sangka, Bidadari itu duduk dengan manja di pangkuaannya, sambil membelai-belai mesra rambutnya. Diberlakukan seperti itu, Ngadiman menjadi kaget dan canggung. Lantas dia pun bertanya, “Siapakah Nona sebenarnya? Kenapa nona memperlakukan aku seperti ini?.” “Namaku Avril Maulida, aku adalah bidadari yang akan jadi istrimu kelak di surga,” jawab Bidadari itu. “Aku tidak percaya! Bagaimana mungkin makhluk serupawan kamu adalah calon istriku. Sementara aku, aku adalah orang jelek, miskin, nista dan penuh dosa. Tolong katakan dan jelaskan yang sebenarnya,” tukas Ngadiman. “Baiklah kanda, ini semua tiada lain karena doa janda syarifah beranak tiga yang kanda bantu tatkala perayaan maulid kemarin,” terang Sang Bidadari. Aku, kecantikan serta kesempurnaanku, adalah perwujudan cinta kanda kepada Rasulullah dan keturunannya,” sambung Sang Bidadari.
Setelah mendengar penjelasan dari Bidadari tersebut, Ngadiman terbangun dari tidurnya. Ajaibnya, bau wangi dari bunga yang dibawa Bidadari dalam mimpi itu masih tercium jelas di hidung Ngadiman. Maka, dia pun segera mengambil air wudlu, kemudian melakukan salat hajat dua rakaat. Bersyukur kepada Allah, membaca salawat serta mendongakkan kepala sambil memanjatkan doa, “Ya Allah, jika mimpi ini memang benar adanya. Sekarang juga, aku mohon kepadaMu untuk segera mengambil ruh kehidupanku. Aku ingin segera bertemu dengan bidadari yang akan menjadi istriku,” pintanya. Belum sampai doa itu selesai Ngadiman panjatkan seluruhnya, dia telah menghembuskan nafas terakhirnya sembari tersenyum penuh kebahagiaan. (Terinspirasi dari dongeng masa kecil saudaraku).


Pesantren Tidak Sedang Tertidur

Oleh: Ach. Muchakkam el Zein*

Sesuatu yang masih minoritas atau marginal memang sering kali tertutupi oleh sesuatu yang dominan dan banyak dijumpai. Bahkan, tidak jarang sesuatu hal menjadi sama sekali tidak kelihatan atau tidak dianggap ketika terdapat hal lain yang lebih menonjol. Kasus seperti ini dapat kita lihat banyak menimpa tokoh-tokoh besar umat Islam. Siapa orang Islam yang tidak mengenal nama Imam Syafii (150-204 H), salah satu dari Imam empat madzhab dalam Islam yang wajib dianut. Namun, saat orang berbicara tentang Imam Syafii (hampir pasti) hanya berkutat tentang kepakaran beliau dalam ilmu fikih. Padahal, selain mahir dalam ilmu fikih, Imam Syafii juga seorang pakar Hadits dan sastrawan handal. Bahkan, sang Imam ini telah menelorkan sebuah antologi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy Syafii.
Setali tiga uang dengan yang dialami Imam Syafii, juga menimpa Sang Sulthanul Auliaa alias Syekh Abdul Qadir Jailany (Jiely/Kailani 470-561 H). Tokoh yang dikenal luas sebagai rajanya para wali ini, oleh sebagian kalangan masyhur (hanya)


sebagai ahli Hikmah dan salah satu Sufi besar. Padahal kalau mau lebih menelusuri lagi, beliau juga sosok yang 'alim dalam tidak kurang dari 12 macam ilmu seperti Tafsir, Hadits, Ushul Fikih, Nahwu, Ushuluddin dsb.

Begitulah, sering kali sesuatu hal besar (dalam contoh di atas ketokohan) menjadi 'berkurang' karena adanya sisi menonjol dan dominan yang kemudian mengaburkan sisi lainnya. Barangkali kondisi inilah yang menghinggapi saudara Fahrudin Nasrullah ketika ia pernah menulis Catatan Suram Untuk Kiai Ceret (Jawa Pos, 27/04/2008). Akibatnya, pandangan seorang Fahrudin menjadi absurd dan tidak terfokus karena terpancang pada satu sisi gelap pesantren (baca- mbangkongan, konservatif).

Dalam tulisannya, Fahrudin mengulas tentang dinamika dunia pesantren (khususnya intelektualisme dan tradisi tulis-menulis) yang menurutnya sedang menghadapi masa suram. Ia mengistilahkan pesantren sebagai 'raksasa' yang sedang tidur. Penyebab tidur 'sang raksasa' menurutnya, karena para kiai kini (hanya) sibuk mengucurkan ayat-ayat Tuhan dengan berceramah (kiai teko) atau sibuk dengan dunia politik lantas melupakan tugas berkarya dan mendidik para santri.
Dari uraian yang ada, Fahrudin terlihat sangat anti pati dan gerah terhadap fenomena kiai ceret, kiai berpolitik dan syndrome memewah-mewahkan bangunan fisik pesantren semata. Sikap anti pati itulah yang ikut membikin saudara Fahrudin lantas menggebyah uyah dan subyektif dalam menyoroti perkembangan dunia pesantren belakangan ini.

Realita bahwa minat para kiai ataupun santri dalam dunia tulis-menulis masih tergolong rendah memang ada benarnya. Tetapi, kalau dikatakan bahwa 'sang raksasa' sedang tertidur, agaknya itu terlalu berlebihan dan -kalau boleh dikata- naif. Apalagi, kalau langsung memvonis dan lantas memikulkan beban kesalahan pada satu pihak saja. Padahal, faktor yang menjadi penyebab masih rendahnya minat baca-tulis di kalangan pesantren adalah faktor kompleks yang saling berkelindan.

Fenomena kiai berceramah atau kiai terjun dalam dunia politik hemat penulis adalah sesuatu keniscyaan dan juga merupakan salah satu medium dakwah dalam Islam. Bahkan hal itu termasuk manifestasi dari QS an Nahl;125, QS at Taubah;122, QS Ali Imran;110 dan QS al A'rof;199 yang secara garis besar menganjurkan berdakwah.
Namun meski begitu, kesibukan berceramah ataupun berpolitik praktis bisa ditolelir selagi aktifitas itu tidak sampai melupakan tugas berkarya dan mendidik para santri agar mewarisi spirit keilmuan ulama. Bukankah alm. KH Bisri Mustofa Rembang, selain aktif mengajar santri, menjadi mubaligh, politisi andal, beliau juga merupakan sosok penulis yang amat produktif.

Dus, kurang bijak rasanya jika para kiai dan ustadz yang menjadi mubaligh ataupun politisi lantas berlindung di balik alasan sibuk saat dimintai 'jawaban' tentang hasil karya dan tugas mereka dalam mendidik santri. Toh tokoh semacam As Syarakhsy, Ibn Taimiyah, Yusuf Qardawi, Buya Hamka mampu menghasilkan karya-karya monumental pun justru saat keadaan mereka terdesak dan menderita.

Terlepas dari hal di atas, sebenarnya kalau kita mau lebih 'jernih' lagi dalam mengamati, greget khasanah intelektualitas dan kegiatan baca-tulis pesantren dewasa ini sedang menggeliat hebat. Bahkan di sebagian pesantren, kegiatan karya tulis telah menjadi agenda resmi kelas setiap kenaikan tingkat akhir di tiap jenjangnya. Pondok pesantren Lirboyo, Sidogiri, al Falah Ploso, al Anwar Sarang (dan masih banyak yang lain lagi), adalah termasuk pesantren yang telah mengagendakan menelorkan karya tulis di setiap tahunnya. Entah itu buah karya dari kodifikasi hasil bahtsul masaail (musyawarah), membikin syarah, hasyiyah, resume, menterjemah atau karya lainnya.

Selain menulis kolektif atau secara tim, para santri di berbagai pesantren tahun belakangan ini juga terus berlomba-lomba mengeluarkan 'buah' bukti inteletualitas dan kreatifitas mereka. Dari pengamatan penulis sendiri, ada banyak buku-buku karya anak-anak pesantren yang telah menghiasi toko-toko buku, acara book fair dan sejenisnya. Di sebuah bazar yang di gelar salah satu pesantren besar di Kediri saja, penulis telah melihat ada ratusan buku-buku yang sudah diterbitkan anak-anak santri dari kawasan timur pulau Jawa.

Yang lebih menggembirakan, tidak dari kalangan santri saja yang telah berani 'keluar kandang' dengan membikin karya tulis atau buku. Dari kalangan kiai muda kini juga sudah banyak yang ikut meramaikan khasanah intelektualitas pesantren.
Melihat geliat pesantren yang seperti itu, bayangan menemukan para penerus Syekh Nawawi, Syekh Arsad, Syekh Mahfudz, Syekh Ihsan, Syekh Bisri Mustofa, kiai Sahal Mahfudz, Gus Mus rasanya sudah di pelupuk mata kita.

Waba'du, semoga di tengah kesibukan belajar-mengajar, ceramah, berpolitik ataupun kesibukan lainnya, para santri, ustadz, ataupun kiai tetap menjaga dan mengembangkan produktifitas serta intelektualitas mereka. Agar pencitraan negatif sebagian besar orang terhadap pesantren akibat terperangkap pada sisi menonjol/dominan pesantren bisa berubah seiring -menjadi- menonjolnya sisi produktifitas dan intelektualitas pesantren. Semoga! (*)

*) Penulis adalah alumni Lirboyo asal Tjilatjap